Home Unik dan seru Catatan Kemunculan Vampir yang Menggegerkan Eropa di Abad Pertengahan

Catatan Kemunculan Vampir yang Menggegerkan Eropa di Abad Pertengahan

by Administrator Kingsmaster 0 comment

Merupakan pekerjaan yang sulit mengais catatan sejarah perihal makhluk mitologi ini. Tidak semua orang mau meyakini akan kebenaran yang terjadi di masa lalu. Masalahnya, cerita tentangnya selalu dekat dengan fantasi dan bualan. Jarak antara yang nyata dan ketidaknyataan itu hanya satu jengkal saja. Namun arsip sejarah tentang peristiwa aneh itu, nyatanya benar-benar ada dan menunjukkan fakta yang cukup mencengangkan.


Ilustrasi | www.news.com.au

loading…

Pada abad pertengahan, sekitar abad 12 ke atas, merupakan masa-masa suram Eropa, meskipun orang (di masa itu) sudah menyebutnya sebagai zaman pencerahan. Ilmu pengetahuan medis dan pengetahuan terapan belum banyak berkembang. Ditambah pada zaman itu, ritual perdukunan, santet, dan sihir hitam marak dan menjadi bagian dari budaya sehari-hari. Kepercayaan orang Eropa terhadap hal yag tak masuk akal mudah dibentuk dari hoax, termasuk isu tentang orang yang mati.


Mulut Mayat yang Penuh Darah Dianggap sebagai Bekas Aktivitas Menghisap Darah

Dikutip dari laman kompas.com (diakses 07/03/2018), hampir setiap daerah di Eropa memiliki ceritanya sendiri perihal makhluk bertaring, menghisap darah, jahat, menyerang warga, dan mencelakai orang yang masih hidup. Mitos itu selalu mengarah pada satu obyek yang sama, yakni orang yang sudah meninggal. Dengan kata lain, ketika ilmu pengetahuan belum mampu menjelaskan bagaimana sejatinya proses pembusukan mayat, orang Eropa sudah lebih dulu menyalahkan orang mati atas berbagai kesialan yang menghampiri kehidupan mereka.

Ilustrasi | www.vampiresDo.com

Sebagai contoh adalah kasus Breslau (Wroclaw), Polandia. Seperti dikutip dari anehdidunia.com (diakses 07/03/2018), seorang pembuat sepatu bunuh diri dengan menggorok lehernya. Sejak kematian itu, dikatakan warga sering mendapatkan teror dari sosok yang mirip dengan si tukang sepatu. Teror itu terus terjadi hingga akhirnya penduduk bersepakat menggali mayat si tukang sepatu dari kuburannya. Ketika digali kembali, mayat tersebut masih tergolong utuh (pembusukan yang lambat), dengan mulut memerah. Keyakinan warga semakin kuat bahwa yang meneror mereka adalah mayat tersebut yang telah berubah menjadi vampir. Warga kemudian memutuskan untuk memutilasi mayat itu lalu membakarnya. Dikatakan bahwa teror kemudian menghilang sejak mayat itu dibakar.

Ilustrasi | www.deviantart.com

Dilihat dalam perspektif ilmu pengetahuan, dikutip dari kompas.com (diakses 07/03/2018) proses pembusukan mayat di negara subtropis tentu dipengaruhi oleh lingkungan dan suhu. Mayat yang utuh dalam jangka waktu beberapa hari, bukan berarti mayat tersebut dikutuk atau merupakan jelmaan vampir, tetapi disebabkan karena aktivitas pertumbuhan mikroorganismenya yang lambat oleh sebab faktor cuaca dan peti yang tertutup rapat. Lalu kenapa mulut mereka memerah seperti bekas menghisap darah, hal itu disebabkan oleh proses pembusukan usus yang mendorong darah sampai ke mulut. Pengetahuan ini sudah menjadi hal umum bagi ahli forensik di zaman moderen.


Mitos yang Dicampurbauri Karya Cerita Para Penulis Fiksi

Tentu saja apa yang merebak dan viral akan selalu memancing ide bagi para pekerja kreatif. Para penulis fiksi di zaman pertengahan turut serta dalam mengambil ide-ide dari kisah horor itu. Cerita fiksi yang mengangkat tokoh vampire sudah ada sejak tahun 1734 berjudul Travels of Three English Gentleman yang diproduksi oleh penerbit Harleian Miscellany. Pada tahun 1819 buku The Vampyre karangan John Polidori seakan turut mengekalkan mitologi tersebut ke masyarakat luas. Sialnya, cerita tersebut laris dan banyak diminati oleh orang-orang. Setelah itu buku-buku dengan genre serupa muncul di setiap tahunnya di banyak negara.

Ilustrasi | www.craveonline.com

Kali ini bukan fiksi, catatan yang lebih kuno tentang Vampir justru termuat dalam kitab Mazmur yang ditulis oleh pendeta dengan aksara Sirilik (aksara Rusia). Tepatnya pada tahun 1047 M, kitab itu dihadiahkan untuk pangeran Novgorod, Volydymyr Yaroslavovcyh. Di dalamnya tertulis istilah “Upir” “Likhyi” yang berarti “Vampir Jahat” yang ditujukan pada ajaran Paganisme. Lalu di abad 11-13 ditemukan catatan anti Pagan yang memuat keterangan pemujaan akan “Upir” dalam risalah “Firman Anti Gregory”. Dengan begitu, sesungguhnya makhluk ini sudah sangat lama tercipta dalam budaya masyarakat kuno.


Penggambaran Vampir di Kemudian Hari Hingga Sekarang

Vampir awalnya digambarkan secara abstrak, dengan wujud yang meyerupai jelmaan orang mati. Vampir menyesuaikan diri dengan orang yang diyakini mati dan telah menjelma vampir. Tingkah mereka destruktif, pengganggu, dan sarat teror. Lambat laun gambaran itu berubah menjadi sosok yang lebih rapi dengan pakaian yang juga lebih moderen. Tanpa meninggalkan “tingkah buruknya” yang gemar memburu manusia, menghisap darah, dan serba jahat, kini vampir mulai bereformasi dengan berbagai kemampuan supranatural yang (sedikit-banyak) terpengaruh oleh imajinasi kreator penulis fiksi.

Ilustrasi | www.anneahira.com

Gigitan vampir menyebakan sesorang menjadi vampir, begitulah aturan baku yang sampai sekarang masih dipatuhi banyak orang. Alasan itu berakar dari kisah pada abad ke-17, konon menimpa seorang bernama Peter Plogojowitch dari Serbia. Peter yang mati di usia 65 tahun dikabarkan bangkit lagi dari kuburnya dan menyerang warga sekitar dengan membunuh dan menghisap darah. Salah satu korban pembunuhan itu adalah anaknya sendiri. Ada pula Arnold Paole seorang petani yang dipercaya bangkit lagi dan menyerang para pekerja di tempat penggilingan. Catatan kedua kisah itu tersimpan rapi mulai dari cara para petugas memeriksa jenasah, menulis laporan, dan menerbitkan buku tentang peristiwa tersebut.

Ilustrasi | www.kursalvage.com

Hari ini, vampir telah berkembang pesat dan menjadi bahan kreativitas para sineas untuk mengeruk pundi-pundi penghasilan. Masa lalu yang kelam bagi bangsa Eropa, telah diputar 180 derajat ke masa yang penuh euphoria. Vampir bahkan telah memiliki banyak penggemar dari seluruh dunia. Masa-masa mencekam di abad pertengahan itu, tak disangka merupakan warisan yang berharga bagi anak cucu mereka.

Facebook Comments

You may also like

%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas